Pojok 32

The Flash


Kehidupan Barry Allen muda terasa berhenti saat ibunya dibunuh.  Pembunuh sebenarnya tidak pernah ditemukan.  Hal tersebut menjadi obsesi terbesar Barry, yang saat dewasa memutuskan untuk menjadi seorang ahli forensik.

Tenggelam dalam pekerjaannya, ia banyak menghabiskan hidupnya di belakang meja, berusaha memecahkan setiap kasus yang ditanganinya. 

Satu kejadian aneh berupa petir yang menyambar di dekat rak kerjanya yang berisi penuh bahan kimia, membuat Barry memiliki kecepatan super, yang pada akhirnya membuatnya menjadi The Flash.  Kini Barry dapat berlari dengan cepat melintasi gedung, bahkan berlari dengan sangat cepat di atas air.

Sebagai The Flash Barry menjadi seorang superhero pemberantas kejahatan yang beroperasi di Central City.  Kecepatan yang dimilikinya membuatnya dapat berlari melebihi kecepatan cahaya, menggetarkan tubuhnya begitu cepat hingga dapat menembus bangunan, dan dapat membuat ledakan sonic hanya dengan menjentikan jari-jarinya.

Dalam film Justice League The Flashpoint Paradox, pembunuh ibu Barry hanyalah seorang penjahat biasa.  Dengan kecepatan yang dimilikinya Barry berlari sangat cepat hingga menembus waktu mundur pada saat dia masih kecil.  Dia bermaksud menyelamatkan ibunya dari usaha pembunuhan.  Barry memang berhasil menyelamatkan ibunya.  Tetapi hal tersebut menyebabkan gangguan dalam alur waktu.  The Flash tidak pernah ada karena Barry tidak pernah terkena petir di kantornya, Kal El bayi yang mendarat di Metropolis dan tidak pernah menjadi Superman, dan Batman yang ternyata adalah Thomas Wayne ayah dari Bruce Wayne.  Dalam alur ini saat terjadi perampokan yang terbunuh adalah Bruce Wayne, bukan ayahnya.

Serial filmnya sedikit berbeda.  Pembunuh ibu Barry adalah Reverse Flash, musuh terberat The Flash, yang semula berniat untuk membunuh Barry kecil.  Dan Barry memiliki kecepatannya akibat terjadi ledakan di STAR Labs yang menimbulkan radiasi unik.